Kamis, 19 Desember 2013

E-Learning keren di kota, bagaimana di desa?

https://www.facebook.com/indberprestasi?fref=ts



Pendidikan menjadi sesuatu yang mutlak ada. Setiap manusia yang lahir berhak mendapat pendidikan yang layak tak peduli dia kaya atau miskin, rupawan atau jelek, semuanya berhak mengenyam enaknya duduk dibangku sekolah dan menyandang julukan sebagai seorang ‘pelajar’. Sebagai sarana untuk menunjang proses pembelajaran, maka dibuatlah sekolah. Disini semua proses pembelajaran dimulai sampai ke jenjang yang lebih tinggi bernama ‘Universitas’. Indonesia sebagai salah satu negara yang memprioritaskan pendidikan sebagai sesuatu yang penting, telah berusaha memperbaiki proses pembelajaran yang sejalan dengan amanah Undang-undang Dasar 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini dibuktikan dengan pergantian kurikulum berkali-kali, namun belum terlaksana optimal karena terkendala oleh banyak hal. Salah satu terobosan baru dalam dunia pendidikan Indonesia yang telah lama dilakukan di berbagai sekolah maupun Universitas Luar Negeri adalah sistem belajar jarak jauh atau bahasa kerennya E-Learning.
E-Learning adalah sebuah metode belajar dengan memanfaatkan internet sebagai sarananya. Siswa dapat belajar dari jarak yang jauh tanpa ada sang guru dihadapan mereka. Sistem belajar seperti ini akan menjadi sangat menyenangkan karena tidak harus ke sekolah setiap hari dan belajar sesuai dengan jadwal dari sekolah. Guru bisa memanfaatkan website ataupun grup di media sosial sebagai tempat untuk berdiskusi ataupun memberikan tugas kepada siswanya. Penerapan e-learning menjadi sangat bermanfaat karena guru tidak harus selalu ke sekolah mengajar sekaligus menghemat waktu. Dengan demikian siswa dapat mengerjakan hal lain yang berguna seperti mengembangkan bakat dan kemampuan mereka.
Tapi tunggu dulu, ada sebuah kelemahan dibalik penerapan e-learning ini. Memang, metode belajar yang seperti ini sangat cocok untuk diterapkan di kota-kota yang memiliki akses internet yang memadai. Bagaimana dengan di daerah-daerah terpencil di desa. Apakah penerapan e-learning bisa efektif seperti yang ada di kota-kota besar? Jangankan untuk menerapkan metode belajar e-learning, masih banyak sekolah-sekolah di desa yang siswa ataupun siswanya sama sekali tidak tahu apa itu e-learning. Kebanyakan dari mereka bahkan masih sangat kaku menggunakan komputer, bagaimana mungkin bisa belajar dengan metode yang seperti ini.
Masalah yang paling mendasar adalah sulitnya membangun akses teknologi komunikasi dan informasi dikarenakan jarak yang begitu jauh dari perkotaan, sehingga penerapan e-learning akan menjadi produk gagal ketika diterapkan di daerah. Membutuhkan materi yang besar untuk menerapkan e-learning di desa. Jadi pada akhirnya, metode bertatap muka adalah metode pembelajaran yang akan selalu digunakan di desa. Jadi, e-learning mungkin akan tetap dan selalu berada di kota.
Inilah yang menjadi pekerjaan untuk pemerintah agar semua anak dapat merasakan meratanya sistem pendidikan di Indonesia. Bukan hanya terpaku di sekolah-sekolah di kota saja, tapi di sekolah-sekolah di desa perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah agar anak-anak di desa bisa bangga dengan bangsanya sendiri. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa banyak bibit-bibit intelek yang ada di desa. Semoga kedepannya pemerintah bisa benar-benar berhasil menerapkan metode pembelajaran jarak jauh bernama e-learning ini.
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog pendidikan dalam rangka memperingati hari guru 25 november

2 komentar: