Araira,
seperti sebuah nama. Penggambaran akan sesuatu yang terasa sangat nyata, indah,
dan manis. Ia begitu terang, membuat mata menyipit jka melihatnya. Ia terasa
sangat dekat disini, ia terasa mudah digenggam. Mudah diraih. Tidak,
nyata-nyatanya ia sangat sulit. Dalam sebuah dimensi waktu yang sama, dalam
hitungan sepersekian detik, Araira memancarkan adiksinya. Mengeluarkan seberkas
cahaya yang berpendar dalam temaram lampu jalan, berkontaminasi dengan uapan
semu embun pagi. Adiksinya masih terasa, walau ia telah melaju jauh. Nah,
giliran sekarang, adiksinya makin terasa. Seperti sebuah parfum mahal yang
wanginya sulit hilang, seperti itulah ia. Adiksinya kadang membuat mimpi,
bingung, bahkan melayang. Walau ia berwujud sederhana, siapa sangka ia sangat
hebat. Juga, beberapa waktu belakangan membuat jantung selalu berdegup kencang.
Ini mungkin efek dari adiksi yang ia pancarkan, menyilaukan dan berhasil
membuat waktu berjalan terasa sangat lambat. Ada sebuah rahasia yang tersimpan
padanya. Rahasia yang hanya aku dan orang-orang tertentu saja yang bisa
mengetahuinya. Mengetahui alur perjalanan sebuah dinamika kehidupannya.
Kau
berpikir Araira ini apa? Sebuah bintang? Yap, jawabanmu sangat tepat. Bintang
jatuh itu bersinar sangat terang. Walau malam hari, cahayanya masih saja
terasa, bahkan mampu menembus tembok 7 cm. Walau tembok itu padat, cahayanya
menembus celah-celah dinding. Sungguh hebat, setidaknya bagiku. Bintang itu
kadang sakit, kadang terpuruk, kadang hampa. Hanya saja ia begitu kuat dan
tegar. Ia dalam misi menemukan jalan pulang kerumahnya.
Tempat
tinggal Araira? Aku tak jelas, yang aku tahu ia hidup disebuah tempat yang jauh
dimana untuk menuju kesana harus menempuh ratusan kilometer. Menembus meteor,
melewati galaksi Andromeda, bahkan sangat jauh. Seperti seorang anak kecil,
Araira bahkan disaat seperti ini masih saja tetap tersenyum manis, bahkan untuk
sebuah pengabaian tak terlihat. Aku bahkan tak tahu jika itu Araira, yang
berusaha dekat denganku. Araira, ia berusaha menjadi baik kepada siapapun,
menjadi sebuah bintang terang yang hadir dalam kehidupan setiap orang, termasuk
aku. Ia bahkan sangat lembut kepadaku. Aku masih tak menyangka pertama kali
bertemu bintang itu, aku merasakan hal lain, pasti karena ia berbeda.
Sampai
disini definisi tentang Araira sudah terungkap. Ya, dia itu manusia seutuhnya.
Dia manusia yang kuibaratkan seperti sebuah bintang jatuh yang mungkin berusaha
kembali menuju galaksinya yang dipenuhi oleh cahaya-cahaya terang nan gemerlap.
Ia hampir menemukan caranya. Aku bahagia jika berhasil. Hmm, sebenarnya aku
sangat sedih, seperti tak rela melepaskan bintang yang mungkin saja pemiliknya
sedang bersedih kehilangannya sekarang. Tak berapa lama lagi, sebentar lagi.
Waktuku untuk bisa melihatnya tinggal sedikit lagi. Setelah itu, aku tak yakin
apa masih bisa melihatnya lagi, si bintang jatuh itu.
Tahu
tidak apa yang membedakannya dengan bintang yang lain? Araira begitu berbeda,
dalam hal apapun. Dia adalah seorang teman yang sangat dekat denganku, dalam
mimpi tentunya. Ia datang, hidup, dan kadang hilang lalu muncul kembali
kemudian menghilang lagi. Kadang aku bisa melihatnya dengan jelas, kadang juga
ia tersembunyi dibalik kerumunan manusia. Aku tak bisa cerita banyak
tentangnya. Aku akan menuliskan kisah Araira, si bintang jatuh yang telah
menemukan rumahnya. Hanya menghitung sedikit banyak waktu, aku bisa bertemu
dengannya lagi.