Selasa, 01 Januari 2013

Araira


Araira, seperti sebuah nama. Penggambaran akan sesuatu yang terasa sangat nyata, indah, dan manis. Ia begitu terang, membuat mata menyipit jka melihatnya. Ia terasa sangat dekat disini, ia terasa mudah digenggam. Mudah diraih. Tidak, nyata-nyatanya ia sangat sulit. Dalam sebuah dimensi waktu yang sama, dalam hitungan sepersekian detik, Araira memancarkan adiksinya. Mengeluarkan seberkas cahaya yang berpendar dalam temaram lampu jalan, berkontaminasi dengan uapan semu embun pagi. Adiksinya masih terasa, walau ia telah melaju jauh. Nah, giliran sekarang, adiksinya makin terasa. Seperti sebuah parfum mahal yang wanginya sulit hilang, seperti itulah ia. Adiksinya kadang membuat mimpi, bingung, bahkan melayang. Walau ia berwujud sederhana, siapa sangka ia sangat hebat. Juga, beberapa waktu belakangan membuat jantung selalu berdegup kencang. Ini mungkin efek dari adiksi yang ia pancarkan, menyilaukan dan berhasil membuat waktu berjalan terasa sangat lambat. Ada sebuah rahasia yang tersimpan padanya. Rahasia yang hanya aku dan orang-orang tertentu saja yang bisa mengetahuinya. Mengetahui alur perjalanan sebuah dinamika kehidupannya.
Kau berpikir Araira ini apa? Sebuah bintang? Yap, jawabanmu sangat tepat. Bintang jatuh itu bersinar sangat terang. Walau malam hari, cahayanya masih saja terasa, bahkan mampu menembus tembok 7 cm. Walau tembok itu padat, cahayanya menembus celah-celah dinding. Sungguh hebat, setidaknya bagiku. Bintang itu kadang sakit, kadang terpuruk, kadang hampa. Hanya saja ia begitu kuat dan tegar. Ia dalam misi menemukan jalan pulang kerumahnya.
Tempat tinggal Araira? Aku tak jelas, yang aku tahu ia hidup disebuah tempat yang jauh dimana untuk menuju kesana harus menempuh ratusan kilometer. Menembus meteor, melewati galaksi Andromeda, bahkan sangat jauh. Seperti seorang anak kecil, Araira bahkan disaat seperti ini masih saja tetap tersenyum manis, bahkan untuk sebuah pengabaian tak terlihat. Aku bahkan tak tahu jika itu Araira, yang berusaha dekat denganku. Araira, ia berusaha menjadi baik kepada siapapun, menjadi sebuah bintang terang yang hadir dalam kehidupan setiap orang, termasuk aku. Ia bahkan sangat lembut kepadaku. Aku masih tak menyangka pertama kali bertemu bintang itu, aku merasakan hal lain, pasti karena ia berbeda.
Sampai disini definisi tentang Araira sudah terungkap. Ya, dia itu manusia seutuhnya. Dia manusia yang kuibaratkan seperti sebuah bintang jatuh yang mungkin berusaha kembali menuju galaksinya yang dipenuhi oleh cahaya-cahaya terang nan gemerlap. Ia hampir menemukan caranya. Aku bahagia jika berhasil. Hmm, sebenarnya aku sangat sedih, seperti tak rela melepaskan bintang yang mungkin saja pemiliknya sedang bersedih kehilangannya sekarang. Tak berapa lama lagi, sebentar lagi. Waktuku untuk bisa melihatnya tinggal sedikit lagi. Setelah itu, aku tak yakin apa masih bisa melihatnya lagi, si bintang jatuh itu.
Tahu tidak apa yang membedakannya dengan bintang yang lain? Araira begitu berbeda, dalam hal apapun. Dia adalah seorang teman yang sangat dekat denganku, dalam mimpi tentunya. Ia datang, hidup, dan kadang hilang lalu muncul kembali kemudian menghilang lagi. Kadang aku bisa melihatnya dengan jelas, kadang juga ia tersembunyi dibalik kerumunan manusia. Aku tak bisa cerita banyak tentangnya. Aku akan menuliskan kisah Araira, si bintang jatuh yang telah menemukan rumahnya. Hanya menghitung sedikit banyak waktu, aku bisa bertemu dengannya lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar